PELATIHAN PROSES PEMBUATAN BATIK TULIS LASEM DALAM UPAYA PELESTARIAN BATIK DI KECAMATAN REMBANG SEBAGAI PERWUJUDAN PILAR KONSERVASI SENI & BUDAYA

Posted by konservasi 120 UNNES on 06.11


Nama : Naufal Mudrik Mezaki

NIM : 5213416029
Prodi : Teknik Kimia


PELATIHAN PROSES PEMBUATAN BATIK TULIS LASEM DALAM UPAYA PELESTARIAN BATIK DI KECAMATAN REMBANG SEBAGAI PERWUJUDAN PILAR KONSERVASI SENI & BUDAYA

Pengertian Batik
Menurut Irwan Tirta, Pengertian Batik adalah teknik menghias kain atau testil dengan menggunakan lilin dalam proses pencelupan warna, yang semua proses tersebut menggunakan tangan.
Pengertian Batik menurut Santosa Doellah, Batik adalah sehelai kain yang dibuat secara tradisional dan terutama juga digunakan dalam matra tradisional, memiliki
beragam corak hias dan pola tertentu yang pembuatannya menggunakan teknik celup rintang dengan lilin batik sebagai bahan perintang warna. Oleh karena itu, sua tu kain dapat disebut batik apabila mengandung dua unsur pokok, yaitu jika memiliki teknik celup rintang yang menggunakan lilin sebagai perintang warna dan pola yang beragam hias khas batik. 
Menurut Hamzuri, Pengertian Batik ialah lukisan atau gambar pada mori yang dibuat dengan menggunakan alat bernama canting. Orang yang melukis atau menggambar pada mori memakai canting disebut membatik. Membatik ini menghasilkan batik yang berupa macam-macam motif dan mempunyai sifat khusus yang dimiliki oleh batik itu sendiri. 
Pengertian Batik menurut Afif Syakur adalah serentang warna yang meliputi proses pemalaman (lilin), pencelupan (pewarnaan) dan pelorotan (pemanasan), hingga menghasilkan motif yang halus yang semuanya ini memerlukan ketelitian yang tinggi. (Afrillyanna Purba, Gazalba Saleh dan Andriana Krisnawati, 2005. Judul : TRIPs-WTO dan Hukum HKI Indonesia. Yang Menerbitkan PT Rineka Cipta : Jakarta.)
Di Indonesia terdapat berbagai macam jenis batik yang bersala dari daerah yang berbeda. Contoh batik Pekalongan, batik Cirebon, batik Solo, batik Lasem, dan lain-lain. Pada tiap daerah batik memiliki ciri khas masing-masing terutama dalam coraknya. Salah satu yang sangat khas yaitu batik Lasem. Batik Lasem merupakan batik yang berasal dari Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.


(Sumber: www.sentrabatiklasem.com)


Batik Lasem pada warna dan motifnya memiliki ciri tersendiri. Ciri ini menjadi khas karena batik Lasem dipengaruhi oleh budaya Cina yang mana dulu ada banyak penduduk Cina yang berukim di Lasem. Batik ini memiliki ciri yang identik pada pewarnaannya, seperti warna merah darah, hijau, biru, dan kuning. Batik Lasem Motif Cina, yakni Batik Tulis Lasem yang motifnya dipengaruhi budaya China, bahkan unsur orientalnya sangat kental dan dominatif, diantaranya:
1.      Motif Fauna Cina plus non Cina.
Contoh motif fauna Cina : motif burung hong (phoenix) yang dikenal sebagai Lok Can, naga (liong), kilin, ayam hutan, ikan emas, kijang, kelelawar, kupu-kupu, kura-kura, ular, udang, kepeting, dsb. Motif fauna Cina ini berkolaborasi dengan motif batik Jawa, seperti parang, udan riris, kawung, kendoro kendiri, sekar jagad, anggur-angguran, dsb.
2.      Motif Flora Cina plus motif non Cina
Motif flora Cina misalnya bunga seruni (chrysanthemum), peoni, magnolia, sakura (cherry blossom), bamboo, dsb. Motif flora Cina ini juga sering bersimbiosis mutualisme dengan motif batik Jawa.
3.      Motif lain bergaya Cina selain flora dan fauna plus motif batik non Cina.
Contoh motif lain( non flora fauna Cina) adalah kipas, banji, delapan dewa (pat sian), dewa bulan, koin uang (uang kepeng).
4.      Motif kombinasi Cina plus motif batik non Cina
Maksud kombinasi motif disini adalah dalam satu Batik Lasem keeleganan motif fauna dan flora Cina berbaur dengan keindahan motif-motif batik Jawa.
Adanya keempat jenis kategori motif Batik Lasem tersebut, memberikan kebebasan kepada para pembatik Lasem dalam berkreasi. Mereka tidak terpaku pada pola motif baku (pakem). Yang terpenting, improvisasi dan kreativitas pembatik Lasem selalu tertantang untuk membuat batik yang bermotif unik dan khas, sehingga bernilai artistik estetik yang tinggi.
Motif Laseman
Kesemua jenis motif tersebut, motif non Cina dan Cina, disebut motif Laseman. Selama ini motif Cina-lah yang dikenal sebagai motif Laseman. Namun berdasarkan pertimbangan sosiologis historis berupa interaksi budaya lintas Cina Jawa di Lasem, diusulkan motif non Cina juga dapat dipromosikan bersama motif Cina yang sudah ada sebagai motif Batik Laseman.
Pada tahun 2013, Indonesia telah mengimpor batik sebesar 282 ton dari berbagai negara dengan nilai mencapai US$5,2 miliar (BPS). Ini menjadi hal yang sangat ironis ketika Indonesia yang merupakan pemilik batik sebagai budaya nasional yang telah diakui oleh dunia namun mengimpor batik buatan dari Cina. Hal ini perlu diperhatikan dan ditanggapi lebih lanjut karena bisa sangat berpengaruh terhadap keberadaan batik pada masa yang akan datang. Ini menjadi sebuah permasalahan yang dikarenakan kurangnya sosialisasi serta pelatihan bagaimana membuat batik. Di era modern, masyarakat sudah sangat jarang yang tahu bahkan bisa tentang bagaimana proses membatik. Proses membatik yang rumit serta membutuhkan waktu yang sangat lama membuat masyarakat menjadi sulit mengerti akan bagaimana itu membatik. Ditambah lagi dengan tidak adanya pelatihan proses membatik secara jangka panjang untuk masyarakat secara luas dan merata.
Berdasarkan salah satu poin dadi pilar konservasi Universitas Negeri Semarang yaitu Seni dan Budaya, untuk meningkatkan pengetahuan akan proses pembuatan batik sekaligus dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan ikut berpartisipasi dalam pelestarian batik Lasem, dapat dibantu dengan adanya pelatihan proses pembuatan batik Lasem kepada masyarakat Rembang. Yang mana pelatihan ini terfokus sebagai pengabdian terhadap masyarakat di kecamatan Rembang.

KONSEP PELAKSANAAN
Pelatihan ini dilakukan dengan sasaran untuk masyarakat umum dan golongan muda. Karena dengan masyarakat umum akan lebih mudah dalam menerima pelatihan. Untuk golongan muda terutama pelajar, memang pada dasarnya di sekolah-sekolah baik menengah pertama maupun menengah atas sudah diajarkan bagaimana membatik. Namun hal tersebut tentu saja kurang untuk proses mendetail dalam membatik. Hal ini dikarenakan jam pelajaran sekolah yang terbatas. Oleh karena itula pelatihan ini menjadi sebuah solusi yang cukup efektif.
Konsep pelatihan proses membatik ini dilakukan dengan menghadirkan satu tutor yang sudah berpengalaman untuk membimbing masyarakat dalam belajar membatik. Konsep ini diberlakukan untuk tiap desa di kecamatan Rembang. Konsep ini dirintis untuk skala kecamatan dengan melakukan koordinasi dengan pedesaan. Perintisan dilakukan hanya di kecamatan Rembang terlebih dahulu dengan alasan kecamatan Rembang merupakan pusat dari Kabupaten rembang. Sehingga apabila terlaksana dengan baik dapat menular ke kecamatan yang lain. Langkah dalam konsep ini yaitu mulai dari pengenalan awal tentang batik Lasem hingga ke proses pembuatan menjadi sebuah produk jadi.
Konsep ini cukup sederhana, namun apabila dijalankan dengan baik akan dapat menghasilkan sebuah hasil yang cukup signifikan terhadap pelestarian batik Lasem, yang mana sangat sesuai dengan pilar konservasi seni dan budaya.
Tahap pelatihan:
a.       Pengenalan awal tentang batik Lasem
b.      Pelatihan pembuatan desain pola/moitf batik (molani)
Pada proses ini dilakukan pembelajaran bagaimana melakukan pembuatan motif pada kain dan bagaimana motif batik Lasem yang menarik
c.       Pelatihan untuk melukis dengan menggunakan malam (lilin) dengan mengikuti pola yang telah dibuat
d.      Pelatihan pewarnaan kain
Menutupi dengan lilin malam bagian-bagian yang akan tetap berwarna putih (tidak berwarna). Canting untuk bagian halus, atau kuas untuk bagian berukuran besar. Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan pewarna, bagian yang diberi lapisan lilin tidak terkena.
e.       Pelatihan proses nglorot hingga tahap akhir yaitu pencucian

Pelatihan disesuaikan seperti proses pembuatan batik pada umumnya. Pelatihan dilakukan tahap demi tahap agar masyarakat lebih tahu secara mendetail bagaimana proses membatik dengan lebih jelas.

MANFAAT
Manfaat yang didapat adalah masyarakat dapat mengetahui bagaimana proses membuat batik Lasem dan memperluas wawasan terhadap pentingnya pelestarian batik Lasem. Sekaligus juga menanamkan kepada masyarakat untuk bagaimana bisa mempublikasikan tata cara membatik. Publikasi ini harapannya dapat menjadi berantai sehingga akan timbul keinginan dalam masyarakat luas untuk membatik. Sehingga dapat menjadi jalan untuk melestarikan batik dan mengakrabkan bagaimana proses membatik di masyarakat secara luas.


Nama Anda
New Johny WussUpdated: 06.11

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

PGA Head Teaching Professional

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Picture should I go

Picture should I go
Motivasi Besar Dalam Hidup guys,,

cari blog-blog menarik disini

Pages

CB