Pembudidayaan Ikan Patin pada Lahan Gambut (Kapalan) Sebagai Upaya Konservasi Terhadap Rawa

Posted by konservasi 120 UNNES on 09.14

 






Nama:Raditya Arga Virgananda 
NIM:5213416049
Jurusan: Teknik kimia

Ketersediaan bahan pangan merupakan salah satu masalah yang masih diadapi oleh penduduk Indonesia.Terdapat banyak sumber pangan di Indonesia,namun masih banyak sumber pangan yang belum dikembangkan atau bahkan belum dikenal. Sumber pangan sendiri dapat berasal dari beberapa sektor,antara lain sektor pertanian,sektor perikanan dan sektor peternakan.
 Perikanan di Indonesia mengalami peningkatan produksi yang relatif stabil,sejak tahun 1950-2010.Hal ini disebabkan oleh sumber daya alam Indonesia yang sangat berlimpah dan akses teritorinya yang mudah.Indonesia terdiri atas 17.502 buah pulau, dan garis pantai sepanjang 81.000 kmdengan Luas wilayah perikanan di laut sekitar 5,8 juta Km2, yang terdiri dari perairan kepulauan dan teritorial seluas 3,1 juta Km2 serta perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) seluas 2,7 juta Km2. Fakta tersebut menunjukkan bahwa prospek pembangunan perikanan dan kelautan Indonesia dinilai sangat cerah dan menjadi salah satu kegiatan ekonomi yang strategis.
Namun demikian,walaupun perikanan memiliki potensi yang besar,masih ada produk yang tak dapat memenuhi target kebutuhannya di Indonesia, yaitu produksi ikan patin.Produksi ikan patin dalam negeri ternyata tak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri yang mencapai 100.000 ton per bulan.Menurut informasi tahun 2006, produksi ikan patin dalam negeri mencapai 31.490 ton. Sementara itu, tahun 2012, produksi ikan patin meningkat signifikan hingga mencapai 651.000 ton.Adanya peningkatan yang signifikan tersebut membuat optimis pemerintah untuk terus menggalakkan produksi ikan patin agar tak perlu mengimpor lagi dari Vietnam.
Permasalahan yang selanjutnya adalah ukuran ikan. dibandingkan dengan ikan patin Vietnam, adalah ukuran ikan patin Indonesia berukuran rata-rata 500-600 gram,sedangkan pasar Eropa menginginkan ikan patin dengan ukuran 800 gram hingga satu kilogram. Idealnya, ikan patin yang bagus adalah yang berukuran satu kilogram hingga 1,2 kilogram agar mudah diolah dalam bentuk fillet. Ukuran ikan patin ini semakin menjadi hambatan karena para peternak ikan patin Indonesia, yang umumnya kalangan rumah tangga, cenderung tidak sabar menunggu hingga ikan patin mereka mencapai berat dan ukuran ideal.
Solusi untuk menjawab permasalahan ini tentu saja harus dengan meningkatkan produktivitasnya sekaligus mencari solusi untuk membesarkan ikan.Salah satu cara yang patut untuk ditempuh adalah dengan membudidayakan ikan patin di lokasi rawa.Hal ini karena lahan rawa merupakan salah satu ekosistem yang mempunyai fungsi hidrologi dan fungsi ekologi lain yang penting bagi kehidupan seluruh makhluk hidup,sekaligus karena lahan gamut merupakan satu-satunya lahan yang masih belum maksimal pemanfaatannya . Indonesia sebenarnya merupakan negara dengan kawasan gambut tropika terluas di dunia yaitu antara 13,5- 26,5 juta hektar (rata-rata 20 juta hektar). Jika luas lahan gambut Indonesia adalah 20 juta hektar, maka sekitar 50% gambut tropika dunia yang luasnya sekitar 40 juta hektar berada di Indonesia. Gambut terbentuk dari hasil dekomposisi bahan bahan organik seperti daun, ranting, semak belukar yang berlangsung dengan kecepatan lambat dan dalam suasana anaerob.
Perkembangan budidaya ikan air tawar masih didominasi oleh budidaya kolam yang menggunakan air dengan sistem pasang-surut yang mengandalkan naik-turunnya permukaan air sungai. Hal ini seringkali terkendala dengan datangnya air asam dengan pH yang rendah (±3) sehingga dapat menyebabkan kematian ikan. Faktor nilai pH itulah yang juga menjadi kendala bagi pengembangan budidaya ikan di sungai yang terkena arus pasang-surut. Ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) merupakan salah satu spesies ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan potensial untuk dikembangkan serta menjadi ikan yang disukai masyarakat. Selain  itu ikan patin cenderung lebih tahan terhadap kondisi oksigen terlarut yang rendah dan pH yang asam.
Prosesnya sendiri meliputi:
A.     Persiapan Kolam
 Wadah pemeliharaan berupa kolam pasang-surut dengan ukuran 20x30 m dan kedalaman kolam ±2,5 m. Sebelum dilakukan penebaran benih terlebih dahulu dilakukan pengolahan lahan meliputi pengolahan air tanah. Tahap persiapan kolam terlebih dahulu dilakukan pembersihan kolam mulai dari pematang sampai dengan bagian dalam sekeliling kolam termasuk saluran karena merupakan bekas hutan gambut maka kotoran yang ada merupakan bahan-bahan organik seperti sisa-sisa tumbuhan (potongan kayu dan akar-akar tanaman), Secara umum dalam pengelolaan kolam terlebih dahulu dilakukan pengeringan dan pengolahan tanah namun pada kolam yang ada dilakukan dengan dua cara yaitu dengan penyedotan air dengan menggunakan pompa dan tanpa penyedotan hal ini dilakukan mengingat kolam cenderung sulit untuk kering, karena air merembes secara terus-menerus dari luar kolam. Penyedotan dilakukan dengan membuang seluruh air yang ada sampai dasar kolam terlihat.

B.     Pengapuran
Jika air kolam telah dibuang selanjutnya dilakukan pengapuran menggunakan kapur tohor dengan tujuan membasmi hama penyakit, memperbaiki struktur tanah dan menaikkan pH. Kapur disebar secara merata di permukaan dasar kolam dan dinding kolam. Dosis kapur yang diberikan antara 500-1000 gr/m2.

C.     Pemupukan
 Kegiatan pemupukan dilakukan sekitar 3-5 hari setelah pengapuran untuk memberikan waktu agar kapur yang ditebar dapat bereaksi dengan tanah maupun air kolam. Pupuk kandang diberikan dengan dosis 200 gr/m2 dengan menebarkannya pada kolam atau dapat pula dengan membenamkan pupuk kandang yang dikemas dalam karung plastik ke dalam kolam. Sehari setelah pemberian pupuk kandang selanjutnya ditambahkan pupuk Urea dan NPK masing-masing dengan dosis 20 gr/m2 dan 10 gr/m2 yang juga disebarkan secara merata di permukaan air dengan tujuan untuk menambah kesuburan kolam. Kolam didiamkan tanpa ada perlakuan sampai beberapa hari (paling lama 15 hari). Setelah pengapuran dan pemupukan kontrol pH terus dilakukan setiap 2 hari sekali. Apabila pH masih < 5, maka dilakukan pengapuran kembali menggunakan dolomite/tohor (100-150 gr/m2), bila pH air telah mencapai 5-6 dapat dilakukan penebaran benih ikan.

D. Penebaran benih
Sebelum dilakukan penebaran benih, terlebih dahulu dilakukan pengukuran kualitas air terutama pH air. Bila pH minimal telah mencapai 5 baru kemudian dilakukan penebaran benih ikan patin siam. Disiapkan hapa sebagai tempat penampungan benih ikan dengan tujuan untuk penyesuaian dengan lingkungan baru, melihat kondisi ikan, 10 cara dan kemampuan makan dan ukuran ikan. Lama penyesuaian ini berkisar antara 1-2 minggu. Setelah itu benih ikan dilepaskan ke kolam. Jumlah benih ikan yang ditebar berkisar 5-10 ekor/m2 ukuran 5-8 cm. 4). Pemeliharaan Secara berkala dilakukan pengukuran pH air, jika pH rendah

       

D. Penebaran benih
Sebelum dilakukan penebaran benih, terlebih dahulu dilakukan pengukuran kualitas air terutama pH air. Bila pH minimal telah mencapai 5 baru kemudian dilakukan penebaran benih ikan patin siam. Disiapkan hapa sebagai tempat penampungan benih ikan dengan tujuan untuk penyesuaian dengan lingkungan baru, melihat kondisi ikan, 10 cara dan kemampuan makan dan ukuran ikan. Lama penyesuaian ini berkisar antara 1-2 minggu. Setelah itu benih ikan dilepaskan ke kolam. Jumlah benih ikan yang ditebar berkisar 5-10 ekor/m2 ukuran 5-8 cm. 4). Pemeliharaan Secara berkala dilakukan pengukuran pH air, jika pH rendah

            E. Pemeliharaan
Secara berkala dilakukan pengukuran pH air, jika pH rendah (<5)maka dilakukan pengapuran kembali menggunakan kapur dolomite sebanyak 100-150 gr/m2. Pakan yang diberikan berupa pellet dengan dosis 3-5% dari berat total per hari, dengan frekuensi pemberian 2 kali sehari (pagi dan sore hari). Pemberian pakan dengan cara sedikit demi sedikit agar jangan sampai ada pakan yang tidak termakan. Pemberian pakan dihentikan apabila ikan yang dipelihara terlihat sudah mulai berhenti makan dan tidak mau makan lagi walaupun pakan yang diberikan masih belum sampai 5%.Untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan serta jumlah pakan yang diberikan maka dilakukan sampling panjang dan berat ikan setiap 1 bulan sekali.
Selama pemeliharaan seacara periodik dilakukan pemantauan kualitas air (suhu, DO, pH dan amoniak) dan kesehatan ikan setiap satu bulan sekali sampai menjelang panen. Pemeliharaan kualitas air dilakukan dengan memeriksa secara langsung kondisi kualitas air di areal perkolaman dan mengambil sampel air untuk dianalisa di laboratorium. Pemeriksaan kesehatan ikan dilakukan dengan mengambil sampel ikan pada saat sampling dan diamati kondisi tubuhnya apakah terlihat gejala terserang penyakit atau tidak.
F. Panen
Setelah masa pemeliharaan selama 12 bulan diharapkan ikan patin mencapai ukuran 800-1000 gr/ekor dan siap untuk dipanen. Proses panen cukup sederhana dan dilakukan secara parsial (sebagian) dan total disesuaikan dengan kemampuan tim panen. Peralatan panen cukup sederhana terdiri dari jala, jaring geser, keranjang, timbangan dan wadah penampungan ikan berupa hapa.

Analisis Usaha
Analisis usaha kegiatan pembesaran ikan patin di kolam lahan gambut bertujuan untuk mengetahui kelayakan usaha yang dilakukan berdasarkan perhitungan ekonomi serta untuk memperbaiki dan meningkatkan keuntungan dalam melakukan usaha budidaya.  Untuk perhitungan analisis biaya yang dilakukan meliputi Break Event Point (BEP), Return of Investment (ROI), dan Benefit Cost Ratio (BCR). Perhitungan analisis usaha pembesaran ikan patin dalam kolam lahan gambut secara lengkap dapat dilihat sebagai berikut:
1. Biaya Investasi
- Pembuatan kolam 1 unit ukuran 30x20x3 m Rp.16.000.000,-
Jumlah Investasi Rp.16.000.000,-
2. Biaya Operasional
a. Biaya tetap
- Bunga investasi 20% Rp. 3.200.000,-
- Penyusutan investasi per tahun 10% Rp. 1.600.000,-
Jumlah Rp. 4.800.000,-
b. Biaya variabel
- Benih ukuran 5-8 cm sebanyak 6.000 ekor @ Rp 700,- Rp. 4.200.000,-
- Pakan 4.000 kg (FCR 1,2) @ Rp 8.000,- Rp. 32.000.000,-
- Upah pekerja 1 orang selama 9 bulan @ Rp 50.000,- Rp. 450.000,-
Jumlah Rp. 36.650.000,-
Total biaya operasional (a + b) Rp. 41.450.000,-
3. Pendapatan
- Benih 6.000 ekor SR 90% ukuran 600 g/ekor
- Harga jual Rp 15.000,-/kg
- Pendapatan per siklus (9 bulan)
= 90% x 6.000 x 600 g x Rp. 15.000,-
= Rp 48.600.000,-
4. Keuntungan bersih
= Pendapatan – Total Biaya Operasional
= Rp 48.600.000,- - Rp 41.450.000,-
= Rp 7.150.000,-
- Pendapatan bersih per bulan Rp 794.000,- per kolam
5. Cash flow
= Laba bersih + penyusutan investasi
= Rp 7.150.000,- + Rp 1.600.000,-
= Rp 8.750.000,-
6. Konversi pakan (FCR)
= Bobot pakan yang digunakan (kg) : Bobot ikan yang dipanen (kg)
= 4.300 : 3.500
= 1,23
7. Biaya produksi per kg daging ikan
= Biaya operasional : Jumlah ikan x bobot ikan
= Rp 41.450.000,- : 5.400 x 600 g
= Rp 12,793,-/g atau Rp 12.793,-/kg
7. Break Event Point (BEP)
= Biaya Investasi : {1 – (Biaya operasional : Pendapatan)}
= Rp 16.000.000,- : {1 – (Rp 41.450.000,- : Rp 48.600.000,-)}
= Rp 108.755.244,-
Artinya titik impas akan tercapai dengan hasil pendapatan Rp. 108.755.244,-
di mana pembudidaya tidak mendapat untung namun modal telah kembali.
8. Return of Investment (ROI)
= (Keuntungan : Biaya operasional) x 100%
= (Rp 7.150.000,- : Rp 41.450.000,-) x 100%
= 0,1724 atau 17,24%
Artinya dengan modal Rp. 100,- akan menghasilkan keuntungan Rp. 17,2,-
9. Benefit Cost Ratio (BCR)
= Pendapatan : Biaya Operasional
= Rp 48.600.000,- : Rp 41.450.000,-
= 1,17 > 1
Artinya nilai BCR lebih dari 1 berarti usaha ini layak untuk dilakukan, jadi semakin besar nilai BCR
maka keuntungan yang diperoleh akan semakin besar.
10. Payback periode
= Biaya operasional : Keuntungan
= Rp 41.450.000,- : Rp 7.150.000,-
= 5,8


Nama Anda
New Johny WussUpdated: 09.14

1 komentar:

  1. terimakasih infonya sangat membantu, jangan lupa kunjungi web kami http://bit.ly/2P5Wu53

    BalasHapus

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

PGA Head Teaching Professional

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Picture should I go

Picture should I go
Motivasi Besar Dalam Hidup guys,,

cari blog-blog menarik disini

Pages

CB